Pendidikan Matematika UIN Suka


Modul PIK untuk pertemuan 8
April 21, 2009, 3:12 am
Filed under: Tak Berkategori

Download file di bawah ini yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Modul ke 8 Download



Desain jaket
April 17, 2009, 9:38 am
Filed under: Tak Berkategori

Ada 2 desain yang dibuat bro….

silahkan pilih terus ikuti poling di kolom sebelah kiri..

Desain 1
1a

1b

Desain 2

2a

2b

Jangan lupa gunakan hak pilihmu untuk milih desain di atas…!!!!

Satu suara sangat berpengaruh bagi seumur hidup Anda..

yang terpenting jangan lupa BAYAR!!!

Harga 80000 rupiah

Thanx..emuach



Modul Praktikum PIK
Februari 23, 2009, 9:40 am
Filed under: Tak Berkategori

Assalamualaikum wr wb.

Bagi mahasiswa Pendidikan Matematika UIN yang mengambil Praktikum PIK mohon membuka atau download file di bawah ini.
Sebaiknya gunakan Mozilla Firefox untuk membuka situs ini…!!

Modul Praktikum PIK Baca



Februari 11, 2009, 2:55 am
Filed under: Tak Berkategori


Betulkah Australia Pelaku Bom Bali Sesungguhnya ?
November 10, 2008, 1:24 am
Filed under: Tak Berkategori

Ditulis Oleh : Redaksi
Almarhum ZA Maulani, mantan kepala BAKIN era Habibie, menurut Fauzan, juga sering bertemu dirinya untuk menjelaskan bahwa bahan bom Bali itu bukan karbit, TNT, atau C4, melainkan mikronuklir.

Imam Samudra, Muklas, dan Amrozi telah dieksekusi mati dini hari tadi. Namun, peristiwa Bom Bali I yang terjadi pada 12 Oktober 2002 masih menyisakan keraguan bagi sejumlah kalangan.

Baca lebih lanjut



Temuan Ilmiah Modern: Syukur Menambah Nikmat !
September 23, 2008, 2:54 am
Filed under: Tak Berkategori

Ilmuwan meneliti peran sikap bersyukur atau berterima kasih. Bersyukur, selain menyehatkan jiwa-raga, juga mendorong terjalin dan terbinanya persahabatan antar manusia. Sikap berterima kasih atau bersyukur mendorong terjalin dan terbinanya persahabatan antar manusia. Inilah kesimpulan S.B. Alqoe dkk. asal University of Virginia, Amerika Serikat (AS). Hasil penelitiannya dimuat di jurnal ilmiah Emotion, edisi Juni 2008 dengan judul “Beyond reciprocity: gratitude and relationships in everyday life” (Lebih dari sekedar hubungan timbal balik: sikap bersyukur dan persahabatan dalam hidup keseharian).

Dalam karya ilmiah itu para ilmuwan meneliti peran sikap bersyukur atau berterima kasih yang muncul secara alamiah dalam perkumpulan mahasiswa di perguruan tinggi selama acara “pekan pemberian hadiah” dari anggota lama kepada anggota baru. Para anggota baru mencatat tanggapan atas manfaat yang mereka dapatkan selama pekan tersebut.

Di akhir pekan itu, dan satu bulan kemudian, anggota lama dan anggota baru menilai keadaan persahabatan dan hubungan di antara mereka. Kesimpulannya, rasa terima kasih atas pemberian hadiah berpeluang memicu terbentuknya dan terpeliharanya persahabatan di antara mereka.

Aneka manfaat syukur
Selain jalinan persahabatan yang baik, sikap bersyukur kini terbukti secara ilmiah memicu pula aneka manfaat lain. Di antaranya manfaat kesehatan jasmani, ruhani dan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik. Tidak heran jika “gratitude research” atau “penelitian tentang sikap bersyukur” menjadi salah satu bidang yang banyak diteliti ilmuwan abad ke-21 ini.

Profesor psikologi asal University of California, Davis, AS, Robert Emmons, sekaligus pakar terkemuka di bidang penelitian “sikap bersyukur”, telah memperlihatkan bahwa dengan setiap hari mencatat rasa syukur atas kebaikan yang diterima, orang menjadi lebih teratur berolah raga, lebih sedikit mengeluhkan gejala penyakit, dan merasa secara keseluruhan hidupnya lebih baik.

Dibandingkan dengan mereka yang suka berkeluh kesah setiap hari, orang yang mencatat daftar alasan yang membuat mereka berterima kasih juga merasa bersikap lebih menyayangi, memaafkan, gembira, bersemangat dan berpengharapan baik mengenai masa depan mereka. Di samping itu, keluarga dan rekan mereka melaporkan bahwa kalangan yang bersyukur tersebut tampak lebih bahagia dan lebih menyenangkan ketika bergaul.

Tak tersentuh sebelumnya
Dulu, sikap bersyukur atau berterima kasih sama sekali tidak terjamah dalam kajian ilmuwan psikologi tatkala profesor Emmons mulai mengkajinya di tahun 1998. Penelitian pertama prof Emmons melibatkan para mahasiswa kuliah psikologi kesehatan di universitasnya.

Saat itu sang profesor mewajibkan sebagian dari para mahasiswa tersebut untuk menuliskan lima hal yang menjadikan mereka bersyukur setiap hari. Sedangkan mahasiswa selebihnya diminta mencatat lima hal yang menjadikan mereka berkeluh kesah. Tiga pekan kemudian, mahasiswa yang bersyukur memberitahukan adanya peningkatan dalam hal kesehatan jiwa-raga dan semakin membaiknya hubungan kemasyarakatan dibandingkan rekan mereka yang suka menggerutu.

Di tahun-tahun berikutnya, profesor Emmons melakukan aneka penelitian yang melibatkan beragam kondisi manusia, termasuk pasien penerima organ cangkok, orang dewasa yang menderita penyakit otot-saraf dan murid kelas lima SD yang sehat. Di semua kelompok manusia ini, hasilnya sama: orang yang memiliki catatan harian tentang ungkapan rasa syukurnya mengalami perbaikan kualitas hidupnya.

Dampak latihan bersyukur
Melalui latihan, perasaan bersyukur dapat dibiasakan dalam diri seseorang. Pelatihan sengaja untuk menanamkan rasa syukur ini ternyata membawa dampak positif dalam beragam sisi kehidupan.

Dalam penelitian menggunakan metoda membandingkan, ditemukan bahwa mereka yang menuliskan rasa syukurnya setiap pekan mendapatkan manfaat jasmani-ruhani yang lebih baik dibandingkan mereka yang terbiasa mencatat peristiwa menjengkelkan dan kejadian yang biasa-biasa saja. Di antara manfaat ini adalah olah raga yang lebih teratur, lebih sedikit mengeluhkan gejala penyakit badan, merasa hidupnya secara keseluruhan lebih baik, dan berpengharapan lebih baik di minggu mendatang.

Manfaat lain sikap berterima kasih tampak pada keberhasilan dalam mewujudkan cita-cita. Dibandingkan dengan orang-orang yang bersikap sebaliknya, mereka yang senantiasa memiliki daftar ungkapan rasa syukur lebih cenderung mengalami kemajuan dalam pencapaian cita-cita mereka. Cita-cita ini dapat berupa prestasi akademis, hubungan antar-sesama dan kondisi kesehatan.

Penelitian lain dilakukan dengan melatih pembiasaan sikap bersyukur setiap hari pada diri sendiri. Kondisi positif seperti: waspada, bersemangat, tabah, penuh perhatian, dan daya hidup pada orang muda dewasa meningkat akibat pembiasaan sikap bersyukur. Perbaikan kondisi sebaik ini tidak dijumpai pada orang yang dilatih bersikap menggerutu atau pada orang yang menganggap dirinya lebih sejahtera dibanding orang lain.

Selain itu, mereka yang memiliki rasa syukur setiap hari lebih memiliki jiwa sosial yang lebih baik dibandingkan mereka yang suka berkeluh kesah dan suka menganggap orang lain kurang beruntung. Golongan yang pertama tersebut cenderung menolong seseorang yang memiliki masalah pribadi, atau telah membantu dukungan semangat kepada orang lain.

Pasien pun tak luput dari penelitian seputar sikap bersyukur ini. Dengan melibatkan sejumlah orang dewasa pengidap penyakit otot-saraf, pelatihan membiasakan sikap bersyukur berdampak baik pada pasien tersebut. Di antaranya adalah kualitas dan lama tidur yang lebih baik, lebih optimis dalam menilai kehidupan, lebih eratnya perasaan persahabatan dengan orang lain, serta suasana hati tenteram yang lebih sering dibandingkan dengan mereka yang tidak dilatih bersikap syukur.

Ketika syukur menjadi kebiasaan
Insan yang bersyukur menyatakan diri mereka merasakan tingginya perasaan positif, kepuasan hidup, semangat hidup, dan pengharapan baik di masa depan. Mereka juga mengalami kemurungan dan tekanan batin dengan kadar rendah.

Kalangan yang memiliki kebiasaan kuat dalam bersyukur atau berterima kasih memiliki kemampuan menyelami jiwa orang lain dan mengambil sudut pandang orang lain. Mereka ditengarai lebih dermawan dan lebih ringan tangan oleh orang-orang di jalinan persahabatan mereka.

Terdapat pula kaitan antara kerohanian seseorang dengan sikap bersyukur. Kecenderungan bersyukur lebih banyak dilakukan mereka yang secara teratur menghadiri acara keagamaan dan terlibat dalam kegiatan keagamaan seperti berdoa atau sembahyang dengan membaca bacaan relijius berkali-kali. Kaum yang bersyukur lebih cenderung mengakui keyakinan akan keterkaitan seluruh kehidupan, serta rasa ikatan dan tanggung jawab terhadap orang lain.

Pribadi-pribadi yang bersyukur dilaporkan memiliki sifat materialistis yang rendah. Mereka tidak begitu menaruh perhatian penting pada hal-hal yang bersifat materi. Mereka cenderung tidak menilai keberhasilan atau keberuntungan diri mereka sendiri dan orang lain dari jumlah harta benda yang mereka kumpulkan.

Dibandingkan dengan kaum yang kurang berterima kasih, kalangan yang bersyukur cenderung bukan berwatak pendengki terhadap kaum kaya, dan bersikap mudah memberikan apa yang mereka punya kepada orang lain.

Nikmat bertambah
Profesor Emmons menuangkan hasil-hasil temuan ilmiahnya itu dalam buku terkenalnya “Thanks! How the New Science of Gratitude Can Make You Happier” (Terima kasih! Bagaimana Ilmu Baru tentang Bersyukur Dapat Menjadikan Anda Lebih Bahagia) yang terbit tahun lalu. Buku ini memaparkan pula 10 kiat untuk menanamkan rasa syukur sepanjang tahun demi mendapatkan nikmat karunia yang bermanfaat dalam kehidupan.

Temuan ilmiah tentang syukur ini mengukuhkan risalah ilahiah bahwa syukur adalah akhlak mulia yang mesti ada dalam diri manusia. Sebab, syukur memicu bertambah nikmat hidup seseorang:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. (Al Quran, Ibrahim, 14:7).

sumber : http://swaramuslim.com/islam/more.php?id=5547_0_4_0_M



Penyandang Buta Aksara ditargetkan Turun Jadi 5 Persen pada 2009
September 15, 2008, 2:39 pm
Filed under: Tak Berkategori

Denpasar, Senin (8 September 2008) — Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo mengatakan, penyandang buta aksara usia 15 tahun ke atas harus diturunkan menjadi lima persen atau 7,7 juta manusia pada 2009 dari 10,21 pesen atau 15,4 juta penduduk pada 2004. Target ini, kata Mendiknas, enam tahun lebih cepat dari target negara – negara anggota UNESCO yang tergabung dalam forum Dakkar.

“Per Agustus 2008 angka buta aksara sudah turun menjadi 6,21 persen laki – laki dan perempuan. Saya berharap pada akhir 2008 buta aksara bisa mendekati sekitar enam persen. Tahun 2009 kita tinggal menyelesaikan satu persen sisanya, sehingga bisa di bawah lima persen,” katanya pada Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-43 di Gedung Ksrirarnawa Taman Budaya, Denpasar, Bali, Senin (8/09/2008).

Hadir pada acara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono, Wakil Gubernur Bali Anak Agung Ngurah Puspayoga, para pejabat eselon I lingkup Depdiknas, serta para gubernur, bupati, dan walikota penerima penghargaan anugerah aksara.

Mendiknas menyebutkan, secara umum provinsi – provinsi yang masih relatif banyak buta aksaranya yakni, Banten, DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Papua Barat, Papua dan Sumatera Selatan. “Oleh karena itu, maka pemerintah pusat bekerjasama dengan pemerintah daerah bermitra dengan masyarakat melakukan pemberantasan buta aksara,” katanya.

Mendiknas mengatakan, berbagai macam strategi dilakukan untuk memberantas buta aksara diantaranya melalui pendidikan kecakapan hidup, menggunakan bahasa Ibu sebagai bahasa pengantar, dan program kuliah kerja nyata (KKN) tematik mahasiswa. “Di Bali ini misalnya, pemberantasan buta aksara dilakukan Bale – Bale Banjar dan itu terbukti juga efektif,” katanya.

Meutia mengatakan, prioritas Kementerian Negara Pemberdayaan perempuan adalah mengatasi kemiskinan kaum perempuan untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Dia menyebutkan, masih ada sembilan provinsi di Indonesia merupakan penyumbang buta aksara perempuan terbesar yakni, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua, Banten, dan Kalimantan Barat.

Anak Agung mengatakan, Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen merealisasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBD pada tahun anggaran 2009. Dia menyebutkan, titik tolak implementasi program meliputi pendidikan berkualitas, subsidi bagi masyarakat yang tidak mampu untuk membebaskan masyarakat Bali dari putus sekolah dan buta aksara. Program lainnya, kata dia, adalah mencanangkan secara bertahap memberikan bantuan operasional sekolah untuk jenjang sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK).

Pada kesempatan yang sama Mendiknas memberikan anugerah aksara kepada masing – masing Gubernur Sulawesi Utara, Gubernur Sulawesi Tengah, dan Gubernur Bali. Anugerah aksara juga diberikan kepada sebanyak 38 bupati, delapan walikota, dan tujuh tokoh masyarakat yang menunjukkan komitmen tinggi terhadap program pemberantasan buta aksara.***

Sumber: http://www.depdiknas.go.id/